Suami Harus Memenuhi Kebutuhan Seksual Istrinya.

Allah SWT berfirman didalam surat Al Baqarah 222 yang artinya sebagai berikut : “Bila istri-istrimu telah suci (dari Haid), maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.”

Hal ini menunjukan bahwa syahwat seksual wanita lebih kuat dan mendalam dari pada pria, sehingga karenanya dia selalu membutuhkan kepuasan, dan Allah SWT mengetahui fitrah ini, oleh karenanya diperintahkan untuk mencampuri istri yang telah suci dari haid. Perintah ini merupakan keharusan bagi suami menggauli istrinya sampai mencapai kadar kepuasan yang dapat memelihara kehormatan dirinya.

Sebuah hadits yang diriwayatkan dari Muhammad bin Ma’an Al-Ghifari berbunyi : “Seorang wanita datang kepada Umar Ibnul Khattab ra. Dan berkata ‘Ya Amirul Mukminin, suamiku shaum pada siang hari dan shalat terus pada malam hari, dan aku tidak suka mengeluh karena dia melakukan ketaatan kepada Allah’. Umar ra.berkata : ‘Alangkah baiknya suamimu itu’. Berulang kali wanita itu mengungkapkan keluhannya yang terselubung tersebut. Kemudian Ka’ab Al-Asadi yang berada disitu berkata : ‘Ya Amirul Mukminin, wanita itu mengeluh suaminya yang menjauhi dari tempat tidur’.

Kisah lain ketika suatu malam Khalifah Umar Ibnul Khattab ra..bersama pengawalnya melakukan inspeksi mengelilingi kota Madinah, dia berhenti di depan sebuah rumah karena mendengar seorang wanita membacakan syair yang isinya sebagai berikut :

“Alangkah panjangnya malam ini dan alangkah gelap sekelilingnya, dan lama bagiku menanti, tiada sempat bergurau dengannya. Demi Allah kalau bukan karena takut kepada Nya, akan berguncang tempat tidurku bersama isinya, tetapi Rabb-ku dan malu mencegahku melakukannya. Dan kemuliaan suamiku tidak dapat diinjak-injak dengannya”.

Umar ra menyuruh orang menanyakan hal itu, dan kemudian diberitahukan bahwa suami si wanita tersebut sedang berjuang fi sabilillah.

Suatu kesempatan lain Umar ra bertanya kepada putrinya Hafsah ra : “Wahai anakku, berapa lamakah wanita bisa menahan dirinya dari kepergian suaminya?” dan Hafsah ra menjawab : “lima sampai enam bulan”.

Dengan jawaban tersebut, maka Umar ra mengambil keputusan bahwa batas waktu paling lama bagi tugas pasukan di lapangan dan medan perang adalah enam bulan.

Rumit dan sulit ternyata membina rumah tangga agar menjadi sakinah, mawaddah wa rohmah. Oleh karenanya untuk membina rumah tangga dibutuhkan untuk terus dan terus belajar, terutama pedoman Al-Qur’an dan Hadits jangan sampai ditinggalkan.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk semua pasangan suami istri dalam membina keluarga yang bahagia, sakinah mawaddah warohmah, amin.

 

Listiana Lestari, S.H. Advokat Pengacara di Yogyakarta

Iklan

PERAN AYAH DALAM KELUARGA

Di Indonesia pernikahan merupakan suatu ikatan yang perlu dipertahankan seumur hidup. Kondisi ini mendorong suami dan isteri untuk terus menerus menyesuaikan diri dengan partnernya. Keluarga hidup dalam masyarakat. Setiap anggotanya mempunyai pola interaksinya sendiri-sendiri; selain dengan anggota-anggota keluarganya juga, dengan orang-orang lain yang berada dalam bidang-bidang kegiatannya yaitu bidang kegiatan pekerjaan, pendidikan dan bidang kegiatan lain (kegiatan social, kegiatan perkumpulan, olah raga dsb).
Penggunaan tenaga dan waktu suami yang terbagi dalam barbagai bidang kegiatan perlu diserasikan dengan penggunaan tenaga dan waktu isteri untuk berbagai macam bidang kegiatan.
Suami hendaknya memberikan tenaga dan waktu yang cukup untuk bidang kegiatan keluarga, terutama yang berhubungan dengan pengasuhan dan pendidikan anak. Ia harus ikut secara aktif membina dan mendidik anak. Sebagai anggota keluarga, yang dianggap sebagai kepala keluarga, suami harus pula menjalankan perannya sebagai ayah dengan penuh tanggung jawab.
Ayah remaja akan mengalami kesulitan pada waktu anak masih kecil, karena kepribadiannya belum cukup matang dan mantap. Ayah menjelang tua pun akan mengalami kesulitan dalam mengasuh anaknya yang masih kecil, karena perbedaan umur yang terlalu banyak. Pada saat anak menjelang remaja kemungkinannya juga cukup besar bahwa ayah tetap tak mampu untuk menjalin hubungan yang lebih akrab dengan anaknya karena kurang mampu memahami dunia anak remajanya.
Ayah dewasa yang mempunyai kemungkinan yang lebih banyak untuk dapat berfungsi sebagai ayah dengan dampak perkembangan yang positif terhadap anak. Untuk mewujudkan ini ayah dewasa perlu bersikap terbuka, mawas diri dan memberikan tenaga dan waktu cukup untuk pengasuhan dan pendidikan anaknya.
(Diambil dari resume map seminar tulisan Prof. Dr. A. Sanyoto Munandar).

Listiana Advokat.

Adopsi dan Peraturan menurut Hukum Positif dan Hukum Islam

Adopsi atau Pengangkatan Anak dalam pelaksanaannya tentunya harus pula mengacu pada peraturan-peraturan hukum positif yang berlaku di Indonesia, maupun peraturan yang berlaku bagi mereka yang beragama Islam.
Pada tahun 1982 MUI mengeluarkan fatwa No. 335/MUI/VI/82 tanggal 18 Sya’ban 1402 H/10 Juni 1982. Kemudian secara hukum Islam, pada tahun 1991 terbit Kompilasi Hukum Islam yang diberlakukan di Indonesia dengan Instruksi Presiden No. 1 tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991, dalam pasal 171 (h) menetapkan bahwa anak angkat ialah anak yang dalam pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan dan sebagainya beralih dari orang tua asalnya kepada orang tua angkat berdasarkan putusan pengadilan.
Sedang menurut hukum positif di Indonesia, tentang adopsi diatur dalam Keputusan Menteri Sosial RI No.41/HUK/KEP/VII/1984 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perizinan Pengangkatan Anak yang isinya sebagai berikut :
Calon Orang Tua Angkat :
1. Berstatus Kawin dan berumur minimal 25 tahun, maksimal 45 tahun.
2. Saat mengajukan permohonan pengangkatan anak sekurang-kurangnya sudah kawin 5 th.
3. Dalam keadaan mampu ekonomi dan sosial.
4. Berkelakuan baik berdasarkan keterangan dari Kepolisian.
5. Dalam keadaan sehat jasmani dan rohani.
6. Telah memelihara dan merawat anak tsb. sekurang-kurangnya 6 bl (anak dibawah 3 th dan 1 th untuk anak umur 3-5 th.)
7. Mengajukan pernyataan tertulis bahwa pengangkatan anak semata-mata untuk kesejahteraan anak.

Listiana Advokat.

CINTA, TAPI KO ADA KEKERASAN ?

Masalah cinta dalam usia remaja, sering dihubungkan dengan pacar atau pacaran. Pacaran adalah hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan yang diikat dengan suatu komitmen/janji-janji tertentu. Sesungguhnya pacaran adalah saat yang dilalui oleh sepasang kekasih untuk saling mengenal lebih dekat. Idealnya harus ada perasaan saling memahami, saling memberi semangat, saling menjaga, intinya melakukan hal-hal yang positif. Tetapi prakteknya kadangkala bertentangan, sehingga timbul bentuk pacaran yang negative.

Pacaran yang negative mengandung unsur kekerasan. Mengapa demikian ? Kadang, hubungan kebersamaan dilandasi pula oleh perasaan memiliki yang begitu kuat, bahkan sampai ingin menguasai. Perasaan memiliki dan menguasai ini akhirnya menghambat perkembangan diri pasangan, ini salah satu akibatnya. Akibat yang lain pasangan menjadi kuper (kurang pergaulan). Pacar yang sering melarang dan membatasi tidak akan mencapai masa yang indah, romantis dan  bahagia. Tindakan menguasai ini sudah disebut dengan kekerasan karena kekerasan itu sendiri menurut Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan adalah setiap tindakan yang berakibat pada kesengsaraan dan penderitaan secara fisik, mental atau seksual pada korbannya.

Ternyata tindakan memiliki dan menguasai itu dampaknya berat ya… jadi gimana dong dengan cinta? Apakah dalam cinta tidak boleh ada perasaan memiliki ? karena titik awal dari timbulnya kekerasan ternyata dari parasaan ingin memiliki yang kemudian ingin menguasai, yang pada akhirnya jadi melukai. Oleh karenanya pada fase pacaran sebaiknya :

  1. 1. menyadari bahwa setiap pribadi seseorang berhak mengatur dirinya sendiri, jangan saling merendahkan satu sama lainnya.
  2. 2. bersikaplah asertif ( mampu mengatakan “Ya” apabila “ya” dan “tidak” apabila memang “tidak” tanpa takut dan berniat untuk menyakiti orang lain).

Semoga dengan pengertian dasar inilah Kekerasan dimasa pacaran tidak terjadi.

Listiana Advokat. LBTGRS2

Pendidikan Anak

Untuk memperoleh gambaran tentang tabiat saleh yang menjadi tujuan pendidikan anak, Al Qur’an s. Luqman : 12- 19 menyebutkan nasehat (pesan) Luqman kepada anaknya yang menjadi pedoman tentang prinsip-prinsip pendidikan menurut ajaran Islam. Nasehat itu berisi hal-hal sebagai berikut :

  1. Menanamkan jiwa keimanan kepada Allah secara murni, yaitu keimanan “tauhid” yang tidak berbau kemusyrikan sedikitpun.
  2. Menanamkan rasa wajib berbuat baik dan bersikap hormat kepada orang tua, meskipun berbeda keyakinan agamanya.
  3. Menanamkan rasa wajib mempermuliakan Allah atas kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui kepada semua perbuatan manusia, tiada suatu perbuatanpun dapat luput dari pengetahuan Allah.
  4. Menanamkan rasa wajib menjalankan ibadah kepada Allah, terutama ibadah shalat yang merupakan sarana komunikasi kontinu antara manusia dengan Allah, dengan cara langsung tanpa perantara apa dan siapapun, serta dilaksanakan sesuai ketentuan-ketentuan yang dituntunkan Rasulullah.
  5. Menanamkan rasa tanggung jawab kemasyarakatan ,  mengajak masyarakat untuk berbuat kebaikan dan tidak membiarkan mereka dihinggapi penyakit-penyakit sosial yang akan menjerumuskan kepada kehancuran.
  6. Menanamkan rasa wajib bersikap hormat kepada sesama, tidak congkak dan sombong, baik dalam perbuatan maupun perkataan.
  7. Menanamkan rasa wajib bersikap sopan santun dalam hidup, berjalan sedang tidak terlampau cepat dan tidak terlampau lambat, berbicara sedang, tidak terlampau keras dan tidak terlalu lembut.

Dari banyak ayat Al Qur’an lainnya dan Hadits-hadits Nabi masih banyak yang memberikan pedomanan tentang pendidikan anak yang meliputi aspek-aspek ‘aqidah, ‘ibadah, akhlaq dan kemasyarakatan.

Pendidikan keimanan merupakan fondamen mutlak yang wajib memperoleh tempat pertama, sebagaimana disebutkan dalam nasehat Luqman kepada anaknya. Pendidikan ibadah tidak hanya diberikan dengan jalan pengetahuan tetapi harus dilatihkan sejak anak berusia 7 tahun.

Itu tadi sekelumit tentang pendidikan anak yang wajib diberikan oleh orang tua. Semoga bermanfaat.

Listiana Advokat.

Referensi : “Hukum Perkawinan Islam” oleh H.A. Azhar Basyir, MA.

Arti Menopause dalam diri Pria

Pria memang tidak mengalami datang bulan, tetapi dikatakan bahwa mereka mengalami menopause seperti juga wanita. Apakah gejala ini karena masalah kejiwaan, sebagai reaksi pada kesadaran bahwa mereka makin menjadi tua, serta berkurangnya potensi seksual? Ataukah karena kekecewaan mereka tidak mencapai cita-cita yang selama ini diimpikan?

Para ahli sependapat bahwa maslah di atas tadi adalah sebagian dari musabab menopause pada pria. Tetapi selain sebab-sebab di atas tadi, para ahli masih terus mengadakan penelitian. Mungkinkah pada pria terjadi juga perubahan hormon tatkala mereka mencapai usia tertentu ?

Kembali kepada kehidupan disekeliling kita, jika apabila suami tiba-tiba perperangai sulit, kemungkinan besar dia sedang mengalami apa yang disebut menopause pria (male menopause). Satu hal sampai saat ini belum didapatkan obat yang cukup mujarab untuk mengatasi masalah ini dalam waktu yang singkat, dengan kata lain, tatkala pria mengalami serangan menopause pria tidak ada obat yang cespleng untuk mengatasinya. Tetapi ada beberapa petunjuk untuk para isteri yang menghadapi suami yang sedang mengalami menopause yaitu :

  1. Perlu diperhatikan jangan sampai dia menjadi terlalu gemuk, apabila ia menjadi gemuk, maka ia akan menjadi lebih rewel lagi. Anjurkanlah ia melakukan olah raga. Awas hati-hati bila ingin menganjurkan ia untuk olah raga, jangan sampai dia tersinggung. Kita dapat mengajaknya untuk berjalan-jalan di pagi hari, karena dengan berolah raga, sukar tidur tidak lagi menjadi masalah.
  2. Dalam keadaan suami sedang dalam masa menopause, sebaiknya jangan berlibur terlalu lama. Karena dia akan kehilangan gairah untuk bekerja kembali. Banyak pria yang dalam masa menopause lalu berlibur, lantas menjadi lesu dan ini sungguh menjengkelkan untuk wanita yang menjadi pendampingnya. Menurut penelitian wanita dapat lebih mudah menghadapi masa2 menopause dari pada pria, oleh karena itu wanita dapat memberikan pertolongan pada pria, pria dalam keadaan ini membutuhkan kepastian bahwa pendampingnya tidak kecewa akan keadaan dirinya yang tidak berfungsi, sedikitnya untuk sementara waktu. Bukan karena dia impotent, tetapi ia sedang dalam masa menopause.
  3. Biasanya masalah ini berlangsung selama 3 bulan sampai 1 tahun dan ia akan segera hilang lenyap.
  4. Lazimnya pria pada periode ini mudah dilanda kebosanan, oleh karenanya berhati-hatilah jangan sampai mengambil keputusan dengan tiba-tiba. Umpama jangan tiba-tiba ingin mengganti pekerjaan, karena pria pada masa ini menginginkan perubahan.
  5. Pria yang sedang dalam masa ini dianjurkan untuk berhati-hati menghadapi wanita dan minuman keras. Ternyata cukup banyak pria yang menjadi peminum pada periode ini begitu juga tidak sedikit pria yang berpaling pada wanita lain pada masa ini. Cukup banyak pria/suami pada masa menopause ini melibatkan diri dengan wanita muda, memang keterlibatan serupa dapat membawa kesegaran sejenak. Bersama wanita muda seakan ia merasa mendapatkan kembali masa mudanya yang sudah lama hilang. Pada masa ini ia merasakan isterinya tidak menarik lagi, sudah jelek, terlalu banyak bicara dan selalu marah. Karena kemungkinan besar sang isteri juga sedang dalam masa menopause. Sebaiknya pria dalam masa ini mintalah pertolongan pada dokter bukan lari pada minuman keras ataupun wanita lain. Yang perlu dicemaskan apabila lelaki pada usia demikian ini melibatkan diri dengan wanita lain, ada kemungkinan ia pingsan secara tiba-tiba, karena kegairahan yang memuncak tak dapat ditampung lagi oleh jantungnya. Berusahalah untuk tidak jatuh cinta, karena cinta yang tumbuh pada masa menopause memang tidak dapat dipercaya. Kecuali jatuh cinta pada teman hidup anda sendiri.

Listiana Advokat.

Rangkuman Dunia Wanita. (La Rose).

Wanita bercitra, wanita yang mempunyai harga diri.

Citra wanita didalam tulisan ini, hanyalah citra diri kita sendiri sebagai wanita. Sering kita dengar kata-kata yang menggambarkan seorang wanita dengan citra yang saleh, seperti : “ Kasihan, dia baik sekali, walau suaminya memperlakukannya dengan tidak adil…., dia tetap sabar, nrimo, dia meninggal karena sakit paru-paru….dia benar-benar wanita yang saleh”. Ada lagi yang mengatakan “Dia merupakan karyawan yang baik, selalu mengalah, walau tidak pernah naik pangkat dia diam saja, sedangkan yang bekerja keras adalah dia, tetapi dia tidak mau menonjolkan diri, biarlah orang lain yang mendapat nama”. Satu lagi wanita/isteri yang menjadi kesayangan sanak saudara, mertua dan ipar-ipar, karena dia wanita penurut, tunduk. Pendapat di atas, bila wanita tersebut diikutsertakan dalam pembangunan, bukanlah wanita yang baik, karena dia mau saja dibuat seperti bola ditendang ke mana saja.

Apabila dilihat lebih jauh mengapa sampai hal tersebut terjadi, adakalanya karena mereka justru terlalu memikirkan orang lain, dan menelantarkan diri sendiri.

Beberapa kejadian berikut ini yang dapat saja membawa benturan pada wanita :

  1. Teledor dengan penampilan, dimana wanita tidak memperhatikan keadaan dirinya. Ia gemar mengatakan “ Saya tidak mementingkan apa yang tampak dari luar, yang penting adalah otak dan budi bahasa”. Akhirnya dia menjadi bahan cemoohan dan lambat laun dia sendiridilanda rasa rendah diri.

  2. Merendah-rendahkan diri sendiri yang justru akan membeberkan kelemahan dan kekurangan diri sendiri.

  3. Seringkali wanita justru kehilangan harga dirinya tatkala dia membiarkan dirinya menjadi budak dari sanak keluarga, atau keluarganya sendiri, termasuk teman-temannya. Dalam keinginannya untuk menyenangkan orang lain atau semua orang, ia seringkali mengorbankan kebutuhannya yang paling utama, umpamanya : dia akhirnya tidak ada waktu yang luang untuk memotong rambutnya sehingga tumbuh tak karuan, ia tampak selalu tidak terawat.

  4. Selalu saja mau menyenangkan orang lain merupakan usaha yang tak mungkin, tetapi seringkali kita jumpa wanita yang repot sendiri selalu saja mau memberikan kepuasan pada semua orang.

Masalahnya terletak pada diri mereka sendiri yang terlalu mementingkan orang lain dan tidak memikirkan diri sendiri atau mungkin juga ingin dihargai yang berlebihan. Bagaimanapun juga pria atau wanita jauh lebih menghargai wanita yang dapat mempertahankan harga dirinya daripada wanita yang tampaknya baik hati tetapi yang dapat dibuat semau hati. Harga diri tidak mungkin diberikan orang lain, kita harus memperjuangkannya sendiri.

Listiana Advokat.

Reference : “Dunia Wanita” La Rose.