POLIGAMI & MONOGAMI

Kita semua tahu bahwa suami yang melakukan perkawinan poligami jarang ada yang bisa berlaku adil kepada lebih dari satu keluarga, oleh karenanya Islam menganjurkan untuk melakukan perkawinan monogami.

Bukti bahwa ada kesulitan dalam berpoligami dalam Islam dijelaskan dengan firman Nya : “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara isteri-isteri mu sekalipun kamu sangat ingin berbuat demikian. Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (pada yang kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lainnya terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kejahatan) maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q. S. An Nisaa : 129).

Allah mengetahui bahwa kita manusia tidak akan pernah dapat berlaku adil. Kesamaan dan keadilan adalah sesuatu yang berada diantara kelebihan dan ketiadaan. Hal ini sangat sulit dilakukan khususnya berkenaan dengan cinta dan perasaan-perasaan emosional kepada kaum wanita, karena emosi tidak selalu bisa dikendalikan. Allah menyatakan dalam ayat tersebut diatas bahwa keadilan diantara isteri-isteri dalam artian yang sebenar-benarnya adalah sesuatu yang betapapun sesorang berusaha mencapai keadilan menyeluruh, selamanya tetap sulit dicapai. Oleh karenanya solusi bagi kaum pria dalam hal ini keseimbangan cinta yang sempurna sehingga semua pihak yang terlibat didalamnya merasa dicintai. Dengan demikian sangatlah penting bagi kaum pria yang melakukan poligami untuk berlaku secara adil dan sama diantara isteri-isteri mereka.

Sesungguhnya cara yang paling mudah untuk berlaku adil dalam perkawinan adalah melaksanakan monogami. Poligami adalah cara yang dilakukan oleh Islam untuk menghapus kerusakan dalam masyarakat.

Listiana Lestari

Buku Referensi :”Bimbingan Keluarga & Wanita Islam” oleh : Husain Ali Turkamani.

18 thoughts on “POLIGAMI & MONOGAMI

  1. Mohon maaf dan ijinkan saya utk berbagi pandangan disini.

    Poligami bukan masalah setuju atau tidak sebetulnya. Tapi lebih melihatnya pada kemampuan orang yg akan ber-poligami tersebut. Kita tidak bisa menyalahkan poligami itu sendiri, karena itu perbuatan yg dilakukan Rasulullah SAW. Yang mesti jadi pertimbangan dan ini merupakan sebuah nasehat dari seorang guru, bahwa Sebelum seseorang itu ber-poligami, sudahkah terbentuk keluarga “nabawi” pada istri yg pertama?

    Wallahu a’lam

  2. Aku suka yg mbak Lis bilang, poligami sebagai salah satu cara mencegah kerusakan di masyarakat. Melindungi perempuan. Jadi bukan pilihan utama, kedua, atau keberapa pun. Hanya jika tidak ada jalan lain. Nabi beristri lebih dari satu karena utk menolong mereka. Kabarnya waktu itu sangat tidak aman bagi perempuan yg sendirian. Kasus ini jangan malah dijadikan contoh untuk berpoligami. Jaman dan situasinya sudah gak cocok.

  3. Poligami adalah cara yang dilakukan oleh Islam untuk menghapus kerusakan dalam masyarakat.

    Mungkin maksudnya, dari pada mereka berzinah atau kumpul kebo, mending poligami ya bu?? Sah secara agama dan negara?? tapi bukan berarti kita seenaknya untuk berpoligami. Bukan begitu bu.

  4. wah klo saya pribadi adalah penentang poligami…
    walau nabi aja, pas dia minta ijin istrinya untuk menikah lagi..istrinya megang telor sampai telornya mateng…..

    mending terus terang….ga ada ijin menikah lagi, mau nikah lagi?..ya cerai duluuuu

  5. poligami…?tergantung kesepakatan bersama, tergantung perasaan bersama. Tetapi apapun alasannya mungkin sebaiknya kita tidak berpoligami apalagi kawin siri lebih-lebih berzina, tetapi bila cinta menghampiri siapa yang bisa menghindari ???

  6. poligami bentuk penindasan psikilogi. apapun itu, bagaimana pun perlkuaan yanga adil, tetap ada jiwa yang sakit. hik… ini hanya menurutku saja, Mbak.

  7. halo mbak salam kenal juga ya, makasih udah mampir. gak ada manusia yg bisa berlaku adil mbak. jangan pd orang lain, pd diri sendiri aja sering tak adil🙂

  8. Hmmm … Selama umur pernikahannya Rasulullah ber-monogami selama hampir 25 taun, sedangkan ber-poligami selama sekitar 10 taun, itupun dengan banyak pertimbangan. Jadi sebel kalou ada yang bilang poligami itu sunnah, tanpa memberi informasi seimbang kalou monogami juga sunnah. Lebih lama yang monogami kan ? Siiip !!!

  9. Coba kita lihat contoh masalah dan kita analisa ,kira – kira apa yah yg menyebabkan laki – laki ingin poligami.

    RELITA : – suami punya 1 istri dan anak-anak yg lucu.
    – sang suami kini mempunyai penghasilan yg cukup untuk poligami / rizki yg banyak
    MASALAH : – sang suami ingin poligami, suami beralasan bahwa dirinya sudah mampu secara ekonomi dan menguasai ilmu agama sehingga dapat berlaku adil
    KITA ANALISIS alasan sang suami :
    menurut saya ada suatu alasan yg sesungguhnya yg disembunyikan oleh sang suami kenapa dia ingin poligami.

    Coba kita perkirakan kekurangan istri dan solusinya sbb :
    === kalau istri kurang cantik….suruhlah ia pergi kesalon kecantikan.percantiklah dia
    === kalau istri sdh peyot/kendor….suruhlah dia ikut fitnes
    === kalau istri kurang bisa masak….suruhlah ia ikut kursus memasak atau sewalah juru masak handal.
    === kalau istri kurang dapat bergaul….suruhlah ia ikut kursus kepribadian
    === kalau istri kurang bisa meladeni “ditempat tidur”…..suruhlah ia konsultasi ke seksolog.

    Mengingat sang suami punya rizki berlimpah, tentunya semua hal di atas dapat diikuti.Jadi apa masalah pada istri yg tidak ada solusinya, sehingga sang suami ingin menikah lagi ???

    JADI MENURUT SAYA;; SANG SUAMI INGIN MERASAKAN BERHUBUNGAN SEX DENGAN PERAWAN ( kalau ingin menikah dg gadis, ini yg paling sering) ATAU BERHUBUNGAN SEX DENGAN SELAIN ISTRI SECARA SAH ( kalau ingin menikah dg janda ). Tapi hal ini tdk dapat disamakan dengan Nabi Muhammad, sebab alasan Nabi Muhammad poligami adalah alasan Syar’i, jauh dari nafsu hewani seperti yg ada pada manusia sekarang.

    Jadi kesimpulannya : siapapun dia ( ustadz, anggota DPR/DPRD, pengacara dll ), kalau ingin poligami biasanya mengeluarkan alasan yg bukan sesungguhnya. Padahal ingin perawannya dan fantasi seksnya dg janda

  10. pada umumnya wanita sangat takut dg kata POLIGAMI. shrsnya g perlu d takutkan, justru hrs menyadari bhw wanita di bumi ini lebih banyak ketimbang laki2. Jd harus siap dan ikhlas jika sewaktu2 harus d poligami, asalkan sebagai istri pertama hrs membuat kriteria2/ syarat2 tertentu pada suami.

  11. sebagian kawan-kawan ada yang mengatakan ”
    “Bukti bahwa ada kesulitan dalam berpoligami dalam Islam dijelaskan dengan firman Nya : “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara isteri-isteri mu sekalipun kamu sangat ingin berbuat demikian. Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (pada yang kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lainnya terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kejahatan) maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q. S. An Nisaa : 129).
    kemudian ditutup dengan perkataan
    “Sesungguhnya cara yang paling mudah untuk berlaku adil dalam perkawinan adalah melaksanakan monogami. Poligami adalah cara yang dilakukan oleh Islam untuk menghapus kerusakan dalam masyarakat.”

    perkataan ini dan yang semisalnya saya uraikan sebagai berikut :

    yang dimaksud dengan ”
    “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil”

    dalam ayat yang mulia ini adalah rasa cinta, kecondongan hati dan hubungan badan. adapun perkara-perakra yang zhahir, seperti tempat tinggal, uang belanja dan waktu bermalam, maka wajib bagi seorang laki-laki yang mempunyai isteri lebih dari satu untuk berbuat adil.

    Dikatakan oleh Imam Ibnu Taimiyyah: ” Tidak boleh mengutamakan salah satu diantara para isteri dalam pembagian. akan tetapi, bila dia mencintai salah satunya lebih dari yang lainnya, atau berhubungan badan lebih banyak dari yang lainnya, maka ini tidak mengapa. dalam masalah ini, Allah SWT telah menurunkan ayat-Nya :

    (Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian0 QS. an_Nisaa’:129,

    yaitu dalam rasa cinta dan berhubungan badan (Majmu’ al Fatawa (32/269)

    Memang ada sebenarnya, terkadang pertengkaran menimpa keluarga, orang yang melakukan poligami, tetapi hal ini terjadi karena kurang bertanggung jawabnya sang suami, dan karena ketidak -adilannya terhadap para isterinya. ini membutuhkan jalan penyelesaian, bukan dengan cara menolak praktek poligami, yang didalamnya terdapat banyak kebaikan. perbuatan dan perilaku individu, tidak bisa dijadikan sebagai dlil untuk menolak diperbolehkannya poligami.

    “Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui (Q.S. al Mulk/67:14)

    semoga ada manfaatnya.. amin..

  12. Islam memandang poligami lebih banyak membawa resiko atau madarat dari pada manfaatnya. Karena manusia itu menurut fitrahnya mempunyai watak cemburu, iri hati, dan suka mengeluh. Watak-watak tersebut akan mudah timbul dengan kadar tinggi, jika hidup dalam kehidupan keluarga yang poligamis. Dengan demikian, poligami itu bisa menjadi sumber konflik dalam kehidupan berumah tangga, baik konflik antara suami dengan istri-istri dan anak-anak dari istri-istrinya, maupun konflik antara istri beserta anak-anaknya masing-masing.

    Karena itu, hukum asal dalam perkawinan menurut Islam adalah monogami, sebab dengan monogami akan mudah menetralisasi sifat cemburu, iri hati, dan suka mengeluh dalam kehidupan keluarga yang monogamis. Berbeda dengan kehidupan keluarga yang poligamis, orang akan mudah peka terhadap perasaan cemburu, iri hati, dan suka mengeluh dalam kadar tinggi, sehingga bisa mengganggu ketenangan dan dapat pula membahayakan keutuhan keluarga.

    Karena itu, poligami hanya diperbolehkan, bila dalam keadaan darurat, misalnya istri ternyata mandul, sebab menurut Islam, anak itu merupakan salah satu dari human investment yang sangat berguna bagi manusia setelah ia meninggal dunia, yakni bahwa amalnya tidak tertutup berkah dengan adanya keturunan yang saleh yang selalu berdoa untuknya.

    Ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan masalah monogami dan poligami dalam surat An-Nisa ayat 3:
    3. Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil [1], maka (kawinilah) seorang saja [2], atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

    [1] Berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meladeni isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah.
    [2] Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. Sebelum turun ayat ini poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW Ayat ini membatasi poligami sampai empat orang saja.

    Hikmah Poligami
    Terlepas dengan aturan-aturan mengenai poligami, terselip hikmah diizinkannya poligami dalam kedaan darurat dengan syarat berlaku adil antara lain ialah sebagai berikut:
    1. Untuk mendapatkan keturunan bagi suami yang subur dan istri yang mandul.
    2. Untuk menjaga keutuhan keluarga tanpa menceraikan istri, sekalipun istri tidak mampu menjalankan tuganya sebagai istri, atau ia mendapat cacat, penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
    3. Untuk menyelamatkan suami yang hypersex dari perbuatan zina dan krisis akhlak lainnya.
    4. Untuk menyelamatkan kaum wanita dari krisis akhlak yang tinggal di negeri yang jumlah wanitanya jauh lebih banyak dari kaum prianya..
    Mengenai hikmah Nabi Muhammad diizinkan beristri lebih dari seorang, bahkan melebihi jumlah maksimal yang diizinkan bagi umatnya ialah sebagai berikut:
    1. Untuk kepentingan pendidikan dan pengajaran agama. Istri nabi sebanyak Sembilan orang itu bisa menjadi sumber informasi bagi umat Islam yang ingin mengetahui ajaran-ajaran Nabi dan praktik kehidupannya dalam berkeluarga dan bermasyarakat, terutama mengenai masalah-masalah kerumahtanggaan.
    2. Untuk kepentingan politik mmempersatukan suku-suku bangsa Arab dan untuk menarik mereka masuk agama Islam.
    3. Untuk kepentingan sosial dan kemanusiaan.
    Jelaslah, bahwa pernikahan Nabi dengan Sembilan istrinya itu tidaklah terdorong oleh motif memuaskan seks dan kenikmatan seks. Sebab kalau motifnya demikian, tentunya Nabi akan meikahi gadis-gadis gari kalangan bangsawan dan dari berbagai suku pada masa Nabi masih berusia muda. Tetapi kenyataanya adalah Nabi pada usia 25 tahun menikah dengan Khadijah seorang janda umur 40 tahun.
    Setelah Khadijah wafat tahun ke 10 sejak Nabi Muhammad menjadi nabi, pada usia sekitar 65 tahun, barulah Nabi memikirkan menikah lagi. Mula-mula menikah dengan Saaudah binti Zum’ah, kemudian Aisyah, dan disusul dengan istri-istrinya yang lain. Tetapi tidak ada seorang istrinya yang dinikahi dengan motif untuk pemuasan nafsu seks.

    Dampak Negatif Poligami
    Al-Athar dalam bukunya Ta’addud al-Zawzat menyebutkan empat dampak negatif poligami, di antaranya:
    1. Poligami dapat menimbulkan kecemburuan di antara para istri
    2. Menimbulkan rasa kekhawatiran istri kalau-kalau suami tidak bisa bersikap bijaksana dan adil.
    3. Anak-anak yang dilahirkan dari ibu yang berlainan sangat rawan untuk terjadinya perkelahian, permusuhan dan saling cemburu.
    4. Kekacauan dalam bidang ekonomi, bisa saja pada awalnya suami memiliki kemampuan untuk poligami, namun tidak mustahil suatu saat akan mengalami kebangkrutan.[3]

    [3] Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia (Jakarta: Kencana, 2006), hal. 161

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s