Putusnya Perkawinan

Pada dasarnya Perkawinan dilakukan adalah bertujuan untuk selama-lamanya. Tetapi ada sebab-sebab tertentu yang mengakibatkan perkawinan tidak dapat diteruskan.

Menurut Hukum Islam, perkawinan putus karena :

  • Kematian
  • Talak
  • Fasakh.

Kematian suami/istri mengakibatkan perkawinan putus sejak terjadi kematian. Sungguh ini takdir Allah yang harus diterima dengan hati yang ikhlas.

Bagi Istri yang ditinggal suaminya harus menjalani masa berkabung selama 4 bulan 10 hari. Athiyyah mengajarkan : “Orang perempuan tidak boleh melakukan hidad (berkabung) atas kematian seseorang lebih dari 3 hari, kecuali atas kematian suaminya…dst”. Dari ajaran ini jelas terlihat betapa pentingnya istri berkabung atas meninggalnya suami.

Disamping perpisahan dengan pasangan disebabkan karena kematian, yang kedua perpisahan dengan pasangan karena Talak.

Ada beberapa keadaan yang menjadi alasan terhentinya perkawinan antara suami dan istri, bahwa Islam membenarkan terjadinya putus perkawinan itu karena untuk memenuhi tuntutan kebaikan hidup rumah tangga, bukan sebaliknya, mengakibatkan kehancuran.

Oleh karenanya khusus mengenai putusnya perkawinan dengan jalan talak ini Islam memberikan pedoman-pedoman yang harus diperhatikan. Yakni :

  1. Talak adalah hal yang halal, yang paling mudah mendatangkan murka Allah. Oleh karenanya aturan talak diadakan guna mengatasi hal2 yang memang telah amat mendesak dan terpaksa.
  2. Apabila terjadi sikap membangkang / melalaikan kewajiban (nusyuz) dari salah satu suami atau istri, jangan segera melakukan pemutusan perkawinan, tetapi hendaklah diadakan penyelesaian yang sebaik-baiknya antara suami-istri sendiri. Bila nusyuz terjadi dari pihak istri, suami supaya memberi nasehat dengan cara yang baik.
  3. Apabila perselisihan telah sampai kepada tingkat syiqaq(mengkhawatirkan) hendaklah dicari penyelesaian dengan jalan mengangkat hakam dari keluarga suami dan istri.
  4. Apabila terpaksa bercerai dan talak benar-benar terjadi, maka harus diadakan usaha agar mereka dapat rujuk kembali, memulai hidup baru.
  5. Meskipun talak benar2 terjadi, pemeliharaan hubungan dan sikap baik antara bekas suami istri harus senantiasa dipupuk. Hal ini hanya dapat tercapai apabila talak terjadi bukan karena dorongan hawa nafsu, melainkan dengan pertimbangan untuk kebaikan hidup masing-masing.

Putusnya perkawinan dengan Fasakh yaitu merusak atau membatalkan hubungan perkawinan yang telah berlangsung.

Fasakh terjadi karena :

  1. Ada hal-hal yang membatalkan akad nikah yang dilakukan. Misalnya : antara suami istri ternyata saudara susuan,  si perempuan ternyata diketahui masih mempunyai hubungan perkawinan dengan orang lain atau dalam masa iddah talak laki-laki lain, sejak diketahui hal ini maka perkawinan mereka batal karena tidak memenuhi syarat sahnya akad nikah.
  2. Karena terjadi hal yang baru setelah akad nikah misalnya suami/istri salah satunya keluar dari agama Islam.

Akibat Fasakh

Istri yang diceraikan pengadilan dengan jalan fasakh tidak dapat dirujuk oleh suaminya.

Listiana Advokat

About these ads

7 pemikiran pada “Putusnya Perkawinan

  1. Salam Takjim
    3 kata yang memang orang akan terkejut mendengarnya Kematian, Talak dan Fasakh. Kata ketiga ini masih asing dipendengaran karena mungkin jarang terjadi orang menikah dengan saudaranya sendiri, semoga jalan fasakh menambah wawasan bagi saya, Terima kasih bunda
    Salam Takjim Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s